Minggu, 24 Januari 2010

LAO TSE

Tersebutlah seorang yang amat bijaksana bernama Lao Tse yang hidup dua abad sebelum masehi di negri Cina. Saking terkenalnya kebijaksanaan Lao Tse ini sehingga banyaklah orang mengadu kepadanya tentang perkara dalam hidup mereka.
Suatu ketika, datanglah seorang pemuda yang bermaksud ingin menguji Lao Tse. Si pemuda itu membawa seekor burung gereja yang diletakkannya sedemikian rupa di tangan sehingga hanya kepala burung saja yang nampak. Burung kecil itu sebenarnya masih hidup.. si pemuda berencana akan bertanya kepada Lao Tse apakah burung yang ditangannya itu hidup atau mati. Bila Lao Tse menjawab hidup, maka akan diremasnya tubuh burung itu sehingga mati dan ia akan bilang kalau Lao Tse salah dan burung itu sudah mati. Sebaliknya bila Lao Tse menjawab Mati, maka ia akan menerbangkan burung itu.
Sesampainya di hadapan Lao Tse, bertanyalah pemuda tersebut, " Wahai Lao Tse.. bila engkau memang bijak, cobalah jawab, apakah burung ditanganku ini hidup atau mati!" Bila anda menjadi Lao Tse, apa yang akan anda jawab?

Lao Tse menjawab, " Mati hidupnya burung itu berada di tanganmu.. engkaulah yang menentukannya. Demikian pula dengan kedisiplinan. Engkau pula yang akan menentukan apakah dirimu berdisiplin atau tidak. Masing - masing manusia adalah penentu hidupnya sendiri." Demikianlah pernyataan Lao Tse, Bagaimana menurut anda?

SI BADUNG

Dahulu kala hiduplah seorang pertapa dengan ketujuh orang muridnya dipuncak sebuah gunung yang amat tinggi. Suatu ketika sang pertapa ingin menguji murid - muridnya, berkatalah ia, " Wahai murid - muridku, turunlah kalian ke lereng gunung ini dan ambillah batu sebesar yang kalian mampu bawa.".
Maka turunlah ketujuh murid pertapa ke lereng gunung nun jauh di bahwah yang perjalanan saja membutuhkan waktu tiga bulan. Sesampainya di bawah mereka segera mengambil batu besar sesuai yang dititahkan gurunya.
Di antara ketujuh murid tersebut ada seorang yang badung. Di saat teman - temannya mengambil batu sebesar anak kerbau, yang diambil badung hanya sebesar telur puyuh. Ketika yang lainnya dengan susah payah mengangkat batu yang berat tersebut ke puncak, si badung dengan santai berjalan sambil mengejek teman - temannya.
Perjalanan kembali mereka ke puncak membutuhkan waktu sekitar enam bulan karena sekarang mereka membawa beban yang amat berat. Tentu saja si badung yang terlebih dahulu tiba di puncak. Ia mengatakan kepada gurunya kalau batu sebesar telur puyuh itulah yang sanggup dibawanya.
Ketika semua muridnya telah kembali, bersabdalah sang pertapa, " Murid - muridku, aku telah melihat kerja keras kalian, karena itu akan aku ubah batu yang kalian bawa itu menjadi emas!". Betapa kecewanya si badung melihat teman - temannya kini memeluk emas sebesar anak kerbau.
Bulan berikutnya sang pertapa berkata lagi, Wahai murid - muridku, turunlah kalian ke lereng gunung ini kembali dan ambillah batu terkecil." Maka turunlah ketujuh murid pertapa dan mengambil batu kecil seperti perintah gurunya. Si Badung berpikir, ' bila ia cuma mengambil batu kecil, bila diubah menjadi emas tentu ia akan rugi, sebab teman - temannya sebelumnya sudah mendapat emas yang luar biasa besar..Bagaimana kalau ia mengambil batu besar saja.. dengan demikian bila guru mengubahnya menjadi emas, maka kekayaannya sekarang sudah sama dengan teman - temannya.
Bila semua teman - temannya dengan langkah ringan setelah mengambil batu kecil kembali ke puncak, si badung yang sekarang dengan susah payah mendorong batu yang amat besar, jauh lebih besar dari yang dibawa teman - temannya sebulan lalu ke puncak.
Setibanya di puncak, ternyata tinggal ia sendiri yang ditunggu. Kemudian bersabdalah sang pertapa, " Karena kalian murid - murid yang berbakti, karena itu akan aku ubah batu yang kalian bawa itu menjadi kekayaan.. sekarang lembarkan batu yang kalian punya, siapa yang terjauh itulah yang terkaya!". Betapa kecewanya si badung melihat batunya tidak bisa dilempar..akibatnya ialah yang termiskin diantara teman - temannya.
Setelah berlalu sebulan lagi, maka bersabdalah sang pertapa kembali, " Wahai murid - muridku, ini adalah tugas terakhir yang akan kuberikan pada kalian..turunlah kalian ke lereng gunung ini kembali dan ambillah dua buah batu sebesar telur puyuh."
Maka kembali berbondong - bondonglah mereka mencari batu - batu yang dimaksud gurunya , si badung kali ini tidak mau gagal lagi, kali ini diambilnya satu batu besar dan satu batu kecil. Perhitungannya bila kedua batu di ubah menjadi emas maka ia untung memiliki batu besar, sedang bila dilempar, maka ia akan melempar batu kecil.
Sekembalinya mereka semua ke puncak, maka bersabdalah sang pertapa, " Karena kalian adalah murid - murid yang patuh, maka akan kuubah batu di tangan kalian itu menjadi TESTIS (buah zakar) yang amat subur. Maka dapat di bayangkan model buah zakar si badung yang kini satu sebesar anak kerbau sedang yang lainnya sekecil kerikil.
Demikianlah KISAH Si Badung.. Kisah tersebut sangat inspiratif bukan? Bagaimana menurut anda?

BELAJAR

Pepatah mengatakan, belajar di waktu muda laksana mengukir batu dan belajar di waktu tua laksana mengukir air.
Demikianlah kenyataannya.. Batu, walau sekeras bagaimanapun ia tetap mampu diukir.. lihatlah mahakarya para pemahat seperti Michaelangelo, Raphael, Bernini, dan lain – lain semuanya adalah ukiran batu. Lihatlah bangunan candi dan relif oleh nenek moyang kita, semuanya adalah ukiran batu. Sebaliknya air, meskipun lembut, namun sangat sulit bahkan mustahil untuk diukir.
Ketika kita masih muda, kemampuan kita menyerap ilmu sangatlah baik, karena itu janganlah menyia – nyiakan umur muda kita. teruslah belajar dan belajar..sebab bila kelak kita sudah tua, kemampuan kita untuk menyerap pelajaran kan semakin berkurang. Bagaimana menurut anda?

Minggu, 17 Januari 2010

DARI RUMPUT SAMPAI INGGRIS

Rumput selalu bisa tumbuh dimana - mana.. mereka adalah tumbuhan yang memiliki daya bertahan hidup (survivor) yang lura biasa. APA sebabnya?
Tahukah anda bila bibit rumput terletak dipuncak. Dengan demikian mereka dapat nempel di mana - mana, di kaus kaki, di rok atau celana, nempel di bulu - bulu binatang dan lain - lain yang kemudian akhirnya mereka dapat disebarkan di mana - mana.
Bibit tersebut tidak pernah tahu seberapa jauh mereka sudah berpisah dari induk yang mereka cintai, medan seperti apa dan situasi yang bagaimana yang akan mereka hadapi bila mereka jatuh di tanah setelah di buang oleh si empunya celana atau kaos kaki. Namun mereka tidak pernah takut untuk berpetualangan dan berjuang. Mereka tahu bahwa untuk menjadi bangsa yang solid, mereka tidak boleh tinggal mengeram di zone kenyamanan mereka saja. Jangan meletakkan telur hanya pada satu tempat saja, sebab bila ada yang ceroboh, semuanya bisa rusak terinjak..itulah filosofi pertama mereka dan Air hanya akan jernih bila ia mengalir dan bukannya menggenang di suatu tempat, itulah filosofi kedua mereka.
Lihatlah bangsa Inggris, Bangsa yang wilayah negaranya sangat kecil, namun karena kesolidan pendahulu - pendahulu mereka menjelajahi dunia, akhirnya bahasa mereka dipakai oleh seluruh dunia dan menjadi bahasa pemersatu. Bagimana menurut anda?

NIAT BAIK

Niat baik itu seperti menanam padi..
Bila kita menanm padi maka biasanya rumput juga ikut tumbuh, sedang bila kita menanam rumput, mustahil padi ikut tumbuh.
Falsafahnya ialah niat yang baik dan diikuti pula tindakan atau perbuatan baik untuk mewujudkannya, tidak selalu hasilnya baik. Terkadang niat dan pertolongan kita yang ikhlas pada seseorang, ditanggapi dengan tidak baik. Sedang niatan yang buruk dan dibarengi perbuatan untuk mewujudkannya mustahil akan memiliki hasil yang baik. NIat korupsi dan kemudian melakukannya, maka hasilnya pasti masuk penjara. Bagaimana menurut anda?

Sabtu, 09 Januari 2010

JAM PASIR

gambar dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jam_pasir

Menurut Wikipedia, jam pasir adalah perangkat untuk pengatur waktu. Terdiri dari dua tabung gelas yang terhubung dengan sebuah tabung sempit .Salah satu tabung biasanya diisi dengan pasir yang mengalir melalui tabung sempit ke tabung dibawahnya dengan laju yang teratur. Ketika pasir telah mengisi penuh tabung bawah, alat ini bisa di balik sehingga dapat digunakan kembali sebagai pengatur waktu. Jam pasir merupakan nama umum yang mengacu pada gelas pasir, dimana jam pasir ini digunakan untuk menghitung waktu selama satu jam.
Berat pasir yang berada dijam pasir berbeda - beda tergantung dari besarnya jam pasir tersebut. Biasanya sih sekitar sepuluh gram.
Seandainya umur saya sekarang tiga puluh tahun maka tiga puluh dikali tiga ratus enam puluh lima (jumlah hari dalam setahun) lalu dikalikan dua puluh empat (jumlah jam dalam sehari) maka akan didapatkan angka 2.628.000 (dua juta enam ratus dua puluh delapan ribu) gram atau dua ribu enam ratus dua puluh delapan kilo pasir yang menetes dari kehidupanku.
Jumlah pasir yang amat berat, dan bila saya seorang pekerja bangunan jumlah itu sanggup untuk membangun sebuah jembatan.. maka sungguh amat rugilah kita bila kita menyia - nyiakan waktu hidup kita. Bagaimana menurut anda?

AMBIVALENSI

Suatu hari seorang teman meminta nasihat kepadaku, ia berkata," Aku mencurigai suamiku selingkuh." Aku lalu bertanya," lalu apa yang akan anda lakukan?".
Ia menjawab," Aku akan bertanya kepadanya.". Aku bertanya," Apa yang anda harapkan dari jawabannya?". Teman itu menjawab," Aku ingin ia jujur apa adanya."
"Seandainya ia benar selingkuh, apa yang akan anda lakukan".
"Aku tidak tahu.. mungkin aku akan bunuh diri.. tolong katakan apa yang harus aku lakukan.. aku ingin ia jujur, tapi aku takut kenyataan kalau ia benar selingkuh.. bagaimana donk?", katanya.
" Kalau begitu.. ",kataku," Jangan bertanya apapun padanya..!"
Terkadang kita ingin sekali mengetahui kebenaran, namun kita takut dengan kenyataannya. Dalam bahasa ilmu jiwa ini disebut AMBIVALENSI. Ketika kita ingin kejujuran seseorang, kita harus siap dengan kenyataannya, sehingga kita bisa mengambil langkah yang bijak dalam menyikapinya.
Sedang bila kita tidak takut dengan kenyataannya..maka jauh lebih bijak bila kita tidak bertanya. Berbaik sangkalah padanya dan tunjukkan bahwa kita menyanyanginya seperti semula kita bersamanya. Bagaimana menurut anda?